This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, November 2, 2012

Danau Toba, Nasibmu Kini...


Danau Toba dari Hutaginjang
Setiap kali mata memandang, Danau Toba memang selalu mampu, paling tidak memberi makna keindahan. Inilah lukisan alam anugerah Sang Penguasa. Sebenarnya ini adalah mutiara. Hanya saja, ketidakpedulian kita seakan-akan membuat ia merana.

Danau Toba terbentuk dari letusan sebuah gunung berapi. Puncak gunung tersebut runtuh dan terjadilah Danau Toba. Sebagian reruntuhan itu menjadi Pulau Samosir. Peristiwa alam membuat kawasan itu menjadi indah. Danau seluas 6,60 kilometer persegi itu dikelilingi dinding-dinding bukit yang menjulang tinggi hingga 480 meter di atas permukaan laut.

Bukit di sebelah tenggara dan timur disebut Bukit Habinsaran dan Simanukmanuk. Dinding itu memisahkan Uluan dan pantai timur Sumatera. Uluan merupakan daerah perbukitan tinggi yang di bawahnya terdapat Toba Holbung atau Lembah Toba. Di kawasan ini terdapat lahan pertanian yang subur dan berpenduduk padat. Kawasan ini terletak di antara Porsea dan Balige.

Panorana alam Lumban Silintong, misalnya. Lokasi wisata yang berada di Kabupaten Toba Samosir, Balige, ini ternyata menyimpan potensi yang bisa dijual. Mengapa begitu optimis untuk menjualnya?

Sejauh ini Kabupaten berpenduduk 169.577 jiwa ini masih dikenal miskin. Bayangkan pertumbuhan ekonominya belum mampu mencapai 1 trilliun. Sementara 80 persen penduduk kehidupan mereka bersumber dari sektor pertanian. Maka, sifat optimis pemerintah setempat sangat perlu dalam pengembangan sektor ini. Benarkan Bali hanya dikenal lewat panorama alam Pantai Kute? Keberhasilan mereka pastinya juga didukung oleh banyak aspek yang tak kalah penting, budaya, keramahtamahan, dan segala aspek yang memungkinkan untuk mengundang minat pelancong untuk datang keduakalinya.


Danau Toba yang Minim Polesan

Pada dekade sebelumnya semarak dunia pariwisata Bona Pasogit (wilayah Tapanuli Utara dan sekitarnya--red) masih akrab disuguhi dengan sajian-sajian budaya khas daerah setempat. Dan tentu saja, ini merupakan daya tarik tersendiri melihat pada hakikatnya nilai keindahan dan kenikmatan sebuah sajian wisata sebenarnya bukan terletak hanya pada bentangan keindahan alamnya saja. Budaya yang berbau khas sebenarnya juga merupakan aset bernilai tinggi.

Ini sudah menjadi sesuatu yang langka ditemui dalam gejolak perpariwisataan Bona Pasogit. “Sebenarnya kendalanya bukan pada kemampuan dan ketidaktersediaan sarana untuk memenuhi sajian budaya itu. Bumi Tobasa sebenarnya masih menyimpan ‘sejuta’ kekayaan budaya yang layak dijual untuk pengembangan pariwisata. Hanya saja maukah kita? Sebaliknya inilah yang terjadi, tidak adanya political will dari pemerintah setempat maupun dukungan masyarakat.” Seperti yang diungkapkan Kabid Litbang dan Evaluasi Pelaporan Bappeda Kabupaten Tobasa Sunggul Tanpubolon memberi komentar seputar permasalahan ini.

Kekhasan budaya yang dimiliki masyarakat Bona Pasogit saat ini sebenarnya mengalami keterpurukan. Misalnya, sejauh ini tarian “tor-tor” hanya dilaksanakan pada acara-acara adat saja. Pada masa silam, masyarakat Bona Pasogit juga masih sering dimanjakan dengan hiburan “opera Batak” yang menampilkan cerita-cerita Suku Batak dan menyimpan pesan moral khususnya bagi kaum muda. Sekarang sajian hiburan seperti ini sudah langka. Akibatnya, orang-orang setempat pun akhirnya lebih memilih hiburan lain.     

Seperti yang dikatakan Sunggul, Tobasa sebenarnya bukan tidak memiliki orang-orang yang mahir dalam pertunjukan opera Batak, hanya saja masalahnya terletak pada ketidak adanya kemauan, terutama antusiasme pemerintah. “Bah, sampai kapan kita menunggu?.”  

Prinsip “Sude Do Raja”

Sajian wisata panorama Lumban Silintong, misalnya, jika dilihat dari segi aspek fasilitas untuk menikmati lukisan alam Danau Toba sebenarnya sudah memadai. Pada tepi-tepi danau barangkali kita tidak akan mengalami kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas dan aman untuk bersantai dan memanjakan mata kita untuk menikmati karunia Tuhan itu. Sekaligus ditmabah dengan sajian yang membuat lidah kita bergoyang dengan sajian khas ikan bakar. Jika doyan memancing, di beberapa tempat ini juga sangat pas. Beberapa gubuk-gubuk pemancingan juga tersedia.

Sama halnya dengan lokasi wisata lainnya. Seperti Parapat Danau Toba, misalnya. Di lokasi danau yang terbentuk dari letusan Gunung Toba, terletak 905 meter di atas permukaan laut dengan keliling 294km, luas permukaan danau 1.100 km² dengan kedalaman maksimum 529 meter ini, pelancong juga serasa dimanjakan dengan tersedianya gubuk-gubuk kecil untuk beristirahat dan menatap luas hamparan air tawar yang luas membentang. Selain itu juga tersedia sarana penginapan dengan aneka variasi kelas, yang tentu saja disesuaikan dengan ketersediaan kocek.

Demikian juga halnya dengan panorama alam Tuktuk Siadong di Kecamatan Ambarita Kabupaten Samosir. Ini bukan berita baru lagi, bahwa Samosir diprioritaskan menjadi kawasan wisata andalan Sumatera Utara sejak kabupaten seluas 1.419,05km2 ini dimekarkan pada tahun 2003.

“Apa yang membuat wisata Parapat Danau Toba, begitu juga kawasan lainnya merosot jika dari jumlah pengunjung dari tahun ke tahun, ialah karakter masyarakat setempat yang menganut prinsip ‘sude do raja’ (semua raja),” kata Syahmidun S Sos, pemerhati Danau Toba yang pernah menduduki Ketua DRRD Kabupaten Simalungun, suatu kali kepada blogger Mytraveldigest.com.

Masyarakat Bona Pasogit masih terikat oleh sejarah yang menyangkutpautkan dirinya dengan budaya lama. Misalnya, pada masa silam mereka, khususnya mereka yang berkecimpung dalam bisnis pariwisata, tidak sedikit dari mereka merupakan keturunan raja. Bukti lain juga tersirat dari marga yang mereka lekatkan pada nama mereka yang tidak sedikir memakai embel-embel “raja” di belakangnya. Ini masih sangat sulit untuk dilepas dari mereka. Akibatnya, mereka tidak bisa memposisikan diri mereka sebagai pelayan karena sudah terbiasa dilayani. Dampaknya, pelancong sering mengurungkan niatnya untuk datang keduakalinya. “Singkatnya, masyarakat setempat masih sulit untuk memposisikan dirinya sebagai “pelayan”.

Ini sudah terbukti. Fenomena ini dapat dibandingkan dengan pengelolaan dan perkembangan pariwisata lain di Tanah Air. Benarkan kemerosotan bisnis pariwisata Sumatera Utara khususnya Danau Toba hanya dilatarbelakangi oleh krisis BBM yang melanda negara kita atau ketidakterjaminan keamanan bagi para pelancong? Ini perlu dicermati. Manusia sangat membutuhkan ketenangan di kala realitas kehidupan saat ini yang penuh dengan kesibukan dan tanggunjawab. Mereka butuh kedamaian lewat sajian hiburan dan wisata. Mereka butuh ketenangan dan yang paling utama mereka ingin dilayani setelah sibuk “melayani” dan penat dalam segala kesibukan urusan pekerjaaan, khususnya bagi masyarakat urban.

Thursday, November 1, 2012

Pesona Danau Lau Kawar Karo

Kawasan alam Danau Kawar, Karo, jika bisa diumpamakan, layaknya daratan kecil yang diperuntukkan khusus bagi pecinta dan penikmat alam. Dan sepertinya tak sedikit yang terpesona, bahkan dan enggan pulang ke rumah setelah mengisi waktu dan menikmati pesonanya di sana. Begitu pulalah yang dialami setiap yang hadir mengisi lahan-lahan berumput hijau di kawasan pinggir Danau Lau Kawar yang memiliki kedalaman tertinggi mencapai 27 meter itu.

Desa Lau Kawar adalah desa kecil yang mayoritas mata pencaharian masyarakatnya bersumber dari pertanian sayur-sayuran dan buah. Untuk mencapai daerah itu, setidaknya harus melalui Brastagi atau Kabajahe.

Sebelumnya, kami telah menempuh perjalanan, yang memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jika bus melaju tanpa ngebut waktu tempuh dari Medan menuju Brastagi bisa memakan waktu 2 jam. Tapi, begitulah kebiasaanya bahwa ngebut itu wajar. Apalagi bagi bus-bus trayek Medan – Brastagi – Kabanjahe, yang rata-rata penumpangnya juga sudah terbiasa dengan kondisi itu.
    
Setelah tiba di Brastagi dan membeli persediaan bahan makanan secukupnya, kami pun melaju dengan bus kecil (Takasima) yang akan membawa kami ke Desa Lau Kawar. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Meski terasa melelahkan, tapi mata cukup terasa segar dengan pemandangan alam pedesaan. Sesekali terlihat Gunung Sinabung yag menyembul dari sudut-sudut desa.

Desa Lau Kawar, selain identik dengan panorama danaunya juga kaya ekosistem flora dan fauna. Diperkirakan di areal yang juga dikenal dengan  kawasaan Hutan Wisata Deleng Lancuk (HWDL)itu terdapat flora jenis keliung (quercus), castanopsis dan jenis ficus.

Pada pingggiraan danau juga terdapat berbagai jenis anggrek pohon dengan bunga-bungaan yang indah. Adapun jenis founa di antaranya, rusa rawa (cervus unicolor), owa (hylobates moloch), musang (paradoxumus hermaprodicus), kambing hutan (naemorhaedus sumatrensis) dan burung enggang (buceros).

Nama Deleng Lancuk diambil dari nama sebuah bukit. Kawasan HWDL berada didalam kawasan Hutan Sibayak II dengan luas 435 hektar. Termasuk Danau Lau Kawar telah ditunjuk menjadi taman wisata alam sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No.08/Kpts/II/1989, 6 Februari 1989.

Hari-hari berlalu tak terasa bisa berwisata di kawasan Danau Lau Kawar. Kebanyakan memasang kemah dan melewati beberapa hari, melewati waktu-waktu bersama alam. Di kala siang, ketika mentari datang menyengat, panas, sebagian wisatawan pergi ke danau mencari ikan atau kepah untuk bekal nanti malam. Ada juga yang pergi ke puncak, bergabung dengan para petani, membantunya, dan pulang denga membawa aneka sayur-mayur: labu, kol, tomat, cabai. Tak ketinggalan ranting-ranting pohon untuk bakaran.        

Di sore hari, sebagian dari mereka asyik bermain bola volley. Dan ketika senja tiba dan langit mulai gelap, perlahan-lahan tedengar alunan lagu dengan iringan gitar. Sambil memasak bahan makanan apa saja yang mereka dapat hari itu, masing-masing mulai membuka cerita. Hingga malam tiba, mereka benyanyi, bercanda, tertawa. Bahagia. Rasanya tak ingin kembali ke kota yang penuh dengan rutinitas.


Kuliner Sebagai Ikon Wisata Medan, Mungkinkah?

Julukan kota kuliner untuk Medan sudah lama didengung-dengungkan. Bahkan food reviewer terkemuka Indonesia, Bondan Winarno, mengakui kalau Medan adalah surga kuliner Indonesia. Lantas, mampukan pemerintah kota ini menjadikan surga kuliner Medan tersebut sebagai salah satu pemikat wisata Sumut? Apalagi pemerintah Sumut sendiri saat ini sedang mendengungkan kampanye Visit North Sumatra 2012.

Anda tahu sendiri kalau Medan bukanlah kota yang memiliki nilai bagus untuk dikatakan sebagai kota tujuan wisata terbaik di Sumatra Utara. Pasalnya, kota ini sendiri masih sering mendapat tanggapan tidak mengenakkan dari berbagai kalangan. Termasuk dari seorang penulis Australia, Adam Gatrell, yang pernah menuliskan opininya tentang Medan di koran terkemuka Australia, The Age, sebagai kota terburuk yang pernah ada—Worst.City.Ever.

Sangat disayangkan pula keberadaan bangunan-bangunan tua di kota ini yang sepertinya tidak serius dianggap pemerintah sebagai aset wisata sejarah. Beruntung masih ada lembaga-lembaga dan komunitas independen yang masih peduli dengan keberadaan bangunan-bangunan tua penanda Medan yang dulu dijuluki sebagai Paris Van Sumatra itu, seperti Badan Warisan Sumatra dan Deli Heritage Club.

“Sayang sekali sebenarnya melihat bangunan-bangunan tua di kota ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah sebagai aset wisata Medan. Salah satu paket wisata yang bisa dijual dari Medan sebenarnya adalah warisan kotanya, ya, bangunan-bangunan tua di Medan,” papar Sihar Emry Prihandi, teman saya yang ikut sebagai penggagas lahirnya Deli Heritage Club.

Nah, bagaimana dengan kuliner Medan? Saya, mungkin banyak kalangan penggiat/pebisnis wisata di Medan, setuju kalau kuliner Medan bisa digarap menjadi sebuah aset wisata yang sangat menjual. Tujuannya, salah satunya, untuk menumbuhkan usaha kecil masyarakat Medan, khususnya yang bergerak di bidang kuliner.

Memang, sejauh ini pun, pengusaha kuliner di Medan sudah cukup menikmati bagaimana menjalankan bisnis kuliner di Medan. Sebab, orang Medan bisa dikatakan kebanyak tipe suka jajan dan makan di luar. Apalagi, makanan di Medan terbilang enak-enak. Hehhee…

Bagaimana seharusnya pemerintah, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, mengeksplorasi kekayaan kuliner Medan ini? Memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu cara yang bisa dilakukan ialah dengan mengajak para stake holder, termasuk pebisnis travel, pelaku ukm dan penggiat industri kreatif.

Dari pertemuan ini, pasti banyak ide yang bisa diwujudkan. Misalnya, dengan menggelar food festival—selama sebulan—misalnya. Tujuannya agar wisatawan dari luar negeri, Malaysia dan Singapura yang datang berlibur ke Medan untuk menikmati kulinernya. Sebab, kabarnya, Malaysia dan Singapura sendiri sudah mengakui kelezatan kuliner Medan.

Ide ini, barangkali, sudah pernah terpikirkan oleh pemerintah kita. Tinggal lagi realisasi yang belum ada. Faktor x apa yang menjadi penyebabnya, entahlah. Namun, perlu dipertanyakan dan dipikirkan, bila Singapura dan Malaysia saat ini sedang gencar-gencarnya mengampanyekan wisata di negaranya, mengapa Medan hanya bisa diam saja?

Mytraveldigest: Every Travel Has It's Story

Setiap perjalanan wisata akan selalu melahiran kesan dan pengalaman tersendiri bagi siapa saja yang melaluinya. Bisa saja sudah ribuan, ratusan ribu, hingga jutaan orang telah mengunjungi suatu destinasi wisata. Namun, bukan berarti semua merasakan pengalaman yang sama.

Tiap orang punya kisah sendiri dengan setiap perjalanannya. Punya pengalaman sendiri dengan apa yang mereka lihat dan rasakan. Itulah yang menyebabkan pariwisata selalu bersifat subjektif. Sebab, sekali lagi, tidak semua orang merasakan pengalaman yang sama. Every travel has it's story.

Mytraveldigest.com adalah blog wisata yang memuat sejumlah artikel pariwisata yang ditulis dari sudut pandang subjektif. Semua artikel perjalanan wisata yang didokumentasikan dalam blog ini, pada dasarnya, berasal dari pengalaman pribadi. Saat ini cakupan lipuatan kami meliputi destinasi wisata di Sumatra Utara, Medan, Asia (Malaysia, Singapura & Thailand) dan beberapa destinasi di Indonesia.

Jika Anda ingin mengundang kami untuk liputan destinasi wisata dan travel industry Anda, silakan contact kami.

Connect with us by: 
Twitter: @mytraveldigest
Email: dedicoky@gmail.com
Phone: 081260116425